Perjuangan untuk bertahan hidup adalah wujud permuliaan bagi Allah

Judul buku                     : A Child Called ‘It’

Nama Pengarang         : David Pelzer

Jumlah Halaman         : 168 halaman

Penerbit                          : Gramedia

Tahun Terbit                 : 2001

 

Cover A Child Called "It" by Dave Pelzer

Cover A Child Called “It” by Dave Pelzer

 

Dave adalah anak ke-3 dari sebuah keluarga bahagia. Sejak kecil keluarganya selalu ceria. Ibu Dave selalu mengajarkan berbagai hal yang layaknya keluarga Amerika lakukan., merayakan hari-hari nasional, dan lain-lain. Ibunya menerapkan kedisiplininan tinggi. David Pelzer atau biasa dipanggil Dave, sangat menikmati masa kecilnya bersama dengan kedua kakaknya. Waktu terus bergulir, Dave kecil pun mulai nakal, sialnya kenakalannya itu selalu dikathui oleh ibunya, meskipun ia melakukannya bersama dengan kakaknya. Ibunya mulai menerapkan hukuman-hukuman yang sangat tidak manusiawi. Mulai dari disuruh berdiri berjam-jam hingga dibakar di atas kompor.

Ibunya yang dulu cantik dan suka menjaga penampilan, kini menjadi tak lebih dari sekedar pengangguran yang suka menyiksa. Kerjaannya hanya minum-minumdan nonton TV, penampilannya tak seperti dulu, bahkan dia tak seperti Ibu. Hanya ayahnya yang bias membuat Dave terhibur. Ketika ayahnya bekerja, Ibunya selalu menyiksanya dengan berbagai siksaan yang keji, tetapi ketika ayahnya pulang ibunya tidak berani berbuat banyak. Siksaan yang dialami Dave semakin menjadi. Dave jarang sekali diberi makan oleh ibunya. Sungguh perjuangan yang berat sekali untuk mendapat sesuap nasi.

Saat ibu berusaha menarik lenganku, ia kehilangan keseimbangan dan terhuyung kebelakan, sementara tangannya masih mencengkeram lengan kiriku, ibu berusaha agar tidak jatuh sehingga lengan kiriku tertarik keatas. Saat itu lah kudengar suara gemeretak, lalu aku merasa sangat kesakitan pada bahu dan lenganku.

“Kau membuat hidupku sperti di neraka! Kini kutunjukkan padamu apa itu neraka!” kemudian ibu menyuruhku naik ke atas kompor dan berbaring di atas api sehingga ia bisa menyaksikan tubuhku terbakar.

Begitu ayah dan kedua saudaraku berangkat bermain, ibu mengeluarkan sebuah popok yang sudah kotor oleh kotoran dan air kencing Russell. Ibu mengusap popok itu ke wajahku…”Kubilang makan ini!”

Serta tangan ibu yang menggenggam pisau… Dari sudut mataku, samar-samar kulihat sebuah benda melayang dari tangannya. Tiba-tiba ada rasa sakit yang perih tepat di bagian atas perutku.

Begitu sekolah usai, aku harus berlari ke rumah dan harus memuntahkan isi perutku untuk diperiksa oleh ibu… beberapa ia mencambukku dengan rantai anjing… yang paling sakit adalah akibat pukulan dengan tangkai sapu lidi ke bagian belakang kaki… aku tidak lagi berdoa… aku sangat yakin bahwa Tuhan tidak ada.

Percuma saja, ayahnya tidak bisa melindungi Dave, bahkan ayahnya takut pada istrinya hingga kabur dari rumah. Hanya sekolahlah tempat di mana Dave aman. Ia diperiksa oleh gurunya hingga akhirnya ibunya dilaporkan pada Dinas Sosial dan Dave pun diamankan bersama dengan polisi. Ceritanya tidak berhenti di sini. Buku ini merupakan buku pertama dari trilogi David Pelzer.

Dari tokoh utama cerita tersebut saya belajar banyak mengenai perjuangan untuk bertahan hidup. Betapa besar keinginannya untuk bisa menikmati hidupnya. Jika aku menjadi Dave aku pasti sudah berharap mati saja. Tapi, dari Dave aku belajar; betapa hidup itu sangat berharga. Benar!Ya, kita telah diberi sebuah kehidupan sudah layak dan sepantasnya bahwa kita mensyukuri apa yang telah dikaruniakan oleh Tuhan ini kepada kita. Caranya, kita perjuangkan hidup kita! Dengan begitu kita telah memuliakan Allah juga.

About blueprint

Aku adalah orang yang cenderung menggunakan perasaan dalam menghadapi sesuatu dan masa mudaku aku habiskan di dalam sekolah berasrama. I have so much thoughts in my mind, but I'm not smart in writing and speaking. Maybe those thoughts help me to interact with others. A lot of my friends said that I'm humorous person, but I said I'm bashful. Some call me arrogant, but i call it confident. And I realize, it was my way to cover my real personality.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s