Ketika hidup bukan lagi tentang baik dan buruk.

Judul buku                      : Veronika Memutuskan Mati

Nama Pengarang          : Paulo Coelho

Jumlah Halaman          : viii + 258 halaman

Penerbit                           : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Tahun Terbit                  : 2005

by: Paulo Coelho

Cover Veronika Memutuskan Mati by: Paulo Coelho

 

Veronika memutuskan mati karena ia merasa hidupnya akan sama saja layaknya orang-orang, sakit, tua, mati dan tak memperoleh apa-apa; selain itu ketidakberdayaannya menghadapi masalah yang dihadapi dunia saat ini. Ia membunuh dirinya dengan menenggak 4 bungkus pil tidur. Ia telah memutuskan cara mati yang tidak merepokan banyak orang dan gampang dilupakan, tidak seperti gantung diri, lompat dari gedung atau semacamnya.

Lama tak kunjung mati akhirnya Veronika tidak sadarkan diri. Ia bangun dan mendapati dirinya berada di Villete, sebuah tempat bagi orang-orang gila. Veronica di vonis akan mati dalam waktu 1 minggu. Ia tak suka berada di sana dan berusaha untuk mencari pil untuk mempercepat kematiannya. Tapi di sinilah ia bertemu dengan orang-orang yang mengubah hidupnya sebelum mati.

Zedka, wanita yang kekurangan zat tertentu. Mari, menderita panic attack dan ditinggal suami dan anak-anaknya. Eduard, penderita Skizofrenia. Dr. Igor, yang dianggap Veronika gila. Zedka menemani Veronika di hari awalnya di Villete, menceritakan segalanya tentang Villete. Sampai akhirnya Zedka hampir sembuh dan akan meninggalkan Veronika disaat-saat terakhir. Veronika berusaha untuk menikmati saat terakhirnya, melakukan apa yang tidak pernah ia lakukan semasa hidupnya. Kemudian ia ingin main piano dan teringat akan masa kecilnya. Pada saat main piano inilah Eduard selalu meminta Veronika memainkan piano untuknya.

Veronica merasa jatuh cinta dengan Eduard, tapi untuk apa mencintai orang yang menderita Skizofrenia (orang yang tidak punya perasaan dan ekspresi). Veronica makin dekat dengan Eduard, tapi tetap saja Eduard datar-datar saja. Sayang Mari mempengaruhi Eduard bahwa hidupnya adalah seorang Skizofren, tidak baik baginya mendekati seorang perempuan dan Mari menyarankan Eduard untuk kabur dan menghadapi dunia luar sana. Eduard tahu bahwa ia tidak lagi menderita Skizofren dan sia-sia saja mencintai wanita yang hampir mati.

Veronika merasa aneh, Dr. Igor selalu menyuntikkan semacam obat-obatan, padahal usia veronica tinggal menghitung hari. Tapi veronica tak mempedulikannya. Ia justru menikmati hari terakhirnya itu. Ia mengajak Eduard keluar dan makan malam di restoran. Saat veronica dalam pelukan tiba-tiba ia tak sadarkan diri. Eduard mengira bahwa Veronika mati. Tapi ternyata tidak.

Dalam hati Dr. Igor merasa berhasil, karena satu-satunya penyembuh vitriol adalah kesadaran akan hidup dan kesadaran akan kematian. Ternyata percobaanya berhasil dan ia menuliskan dalam bukunya.

Kesadaran akan waktu hidupnya membuat Veronika termotivasi untuk menikmati hidupnya sebelum mati. Ia menghargai waktu hidupnya yang tinggal sebentar dengan melakukan hal yang dia inginkan, melakukan hal-hal yang belum pernah ia lakukan. Ternyata hidup itu sangat penting dan berharga, Veronika yang telah memutuskan mati pun ingin saat-saat terakhir hidupnya berharga.

Menjadi seorang calon pemimpin yang memperjuangkan hidup orang banyak, tentu paling tidak harus menghargai diri sendiri. Saya merasa bahwa novel ini menyindir saya, melalui novel itu sebuah harapan akan cinta dan hidup menyelamatkan Veronika dari kematian betapa buruk kehidupan yang ia alami. Saya sendiri pernah memiliki keinginan untuk bunuh diri, untungnya saya tidak punya cukup nyali untuk melakukannya. Saya seharusnya mensyukuri hidup yang saya miliki ini, saya tahu bahwa orang lain mungkin lebih baik dari saya tapi sekarang itu seharusnya tidak menjadi masalah. Saya punya kemampuan sendiri dan orang lain pun memiliki kemampuan mereka sendiri. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk, hanya berbeda saja.

About blueprint

Aku adalah orang yang cenderung menggunakan perasaan dalam menghadapi sesuatu dan masa mudaku aku habiskan di dalam sekolah berasrama. I have so much thoughts in my mind, but I'm not smart in writing and speaking. Maybe those thoughts help me to interact with others. A lot of my friends said that I'm humorous person, but I said I'm bashful. Some call me arrogant, but i call it confident. And I realize, it was my way to cover my real personality.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s