Judul buku                       : The Alcemist

Nama Pengarang           : Paulo Coelho

Jumlah Halaman           : 216 halaman

Penerbit                            : PT. Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit                   : 2005

 Sang Alkemis

            Hiduplah seorang gembala kecil yang sedang menggembalakan domba-dombanya yang setia dan taat. Gembala tersebut menunggui domba-dombanya yang sedang menikmati hijaunya rumput di bawah sebuah pohon sycamore. Santiago, nama pemuda itu, mendapat mimpi 2 kali berturut-turut dan sama tentang penemuan harta karun tersebut. Ia menjual domba-dombanya dan bertemu dengan peramal yang memberitahukan maksud mimpi tersebut. Nasibnya seolah-olah sudah ditentukan dan ia tinggal menjalaninya saja. Selanjutnya ia bertemu dengan seorang raja yang mengaku sebagai Raja Melkisedek; memberitahukan langkah yang harus ia tempuh untuk mendapatkan harta karun tersebut. Nasibnya semakin baik, ia kemudian menjadi seorang pelayan disebuah toko kristal. Kedatangannya ternyata membawa berkah bagi sang pemilik toko karena Santiago selalu mengadakan pembaharuan untuk toko tersebut. Maka semakin banyaklah pembeli yang datang ke toko tersebut.

Santiago telah memutuskan bahwa ia bekerja di toko tersebut untuk mengumpulkan uang untuk membeli karavan sehingga bias pergi ke Mesir demi mendapatkan harta karunnya. Setelah mendapatkan uang yang ternyata lebih dari cukup, ia segera berangkat ke Mesir untuk mencari harta karunnya. Setibanya di padang gurun, ia harus berlindung di oasis karena adanya perang. Di sanalah ia bertemu dengan Fatima, gadis gurun yang Santiago cintai. Sebenarnya ia tak ingin meninggalkan Fatima di padang gurun, tapi para perempuan padang gurun sadar bahwa sebagai seorang wanita ia rela setia ditinggal oleh kekasihnya yang pergi berperang atau merantau. Meskipun berat, Santiago melanjutkan perjalanannya untuk mencari harta karun. Ia juga bertemu dengan seorang alkemis yang memberitahukan banyak hal tentang mimpi dan harta karunnya dan juga tentang hidup.

Dimana hatimu berada, di sana hartamu berada. Bersama sang alkemis, Santiago berangkat menuju piramida di mana harta karun itu disebut-sebut berada di sana. Hatinya membimbingnya untuk terus melangkah ke sana. Sesampainya di sebuah tempat seperti dalam mimpinya, ia mulai menggali dan terus menggali. Akan tetapi ia tak segera menemukan harta tersebut, hingga datanglah sesosok manusia dan mengancamnya untuk memberikan uang. Santiago merasa takut apabila apa yang ia gali direbut oleh orang tersebut. Ia kemudian teringat akan perkataan sang alkemis: “Apa gunanya apabila kau memiliki uang akan tetapi kau akan mati?” Santiago lalu bercerita bahwa ia sedang menggali harta karun seperti dalam mimpinya. Perampok itu tertawa dan bercerita bahwa ia juga mendapat mimpi tentang harta karun yang berada di bawah pohon sycamore di mana seorang gembala sering berbaring di sana. Tapi perampok itu tak rela membuang waktu dalam hidupnya hanya untuk pergi jauh-jauh dan menggali tanah di mana seorang gembala tertidur.

Kini Santiago tahu di mana harta karun itu berada. Keyakinan dan kepercayaannya telah membawanya kepada harta karunnya.

Sebagai seorang calon pemimpin, keyakinan dan kepercayaan itu perlu untuk mendapatkan harta karun yang dalam kasus ini adalah menjadi seorang pemimpin. Di dunia ini tak ada yang namanya kebetulan, semua demikian adanya karena Sang Maha Kuasa yang menuliskan cerita atas hidup kita. Meskipun demikian bukan berarti saya hanya berpasrah, berdiam diri, berpangku tangan menunggu sesuatu terjadi dalam hidup saya namun, dengan segenap keyakinan saya berusaha untuk meraih apa yang saya inginkan. Sehingga bersama dengan Sang Maha Kuasa bersama-sama menuliskan cerita kehidupan ini.

About blueprint

Aku adalah orang yang cenderung menggunakan perasaan dalam menghadapi sesuatu dan masa mudaku aku habiskan di dalam sekolah berasrama. I have so much thoughts in my mind, but I'm not smart in writing and speaking. Maybe those thoughts help me to interact with others. A lot of my friends said that I'm humorous person, but I said I'm bashful. Some call me arrogant, but i call it confident. And I realize, it was my way to cover my real personality.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s