Judul Buku                  : Perjalanan Sunyi Bisma Dewabrata

Nama Pengarang         : Amrih Pitoyo

Jumlah Halaman          : 476 halaman

Penerbit                       : Diva Press

Tahun Terbit                : 2010

Image

   Menjadi seseorang yang telah mengucap janji setia dan mati dengan syarat tidaklah mudah. Tapi itulah yang dilakukan oleh Dewabrata.

Ibunya adalah seorang dewi yang memilih jalan kematian sebagai manusia. Sayang ibunya, Dewi Gangga, harus meninggalkannya sejak masih kecil dan terpakasa ayahnya, Prabu Sentanu mencari seorang ibu susu untuk Dewabrata. Muncullah seorang yang baik hati yang berkenan menjadi ibu susu bagi Dewabrata yaitu Dewi Durgandini, istri Palasara. Dan Abiyasa adalah anak Durgandini dengan Palasara.

Tak lama, Prabu Sentanu memperistri Durgandini. Sejak saat itu Durgandini tidak suka jika Dewabrata, anak tirinya menjadi raja Astinapura. Ketidaksukaan Dewabrata dengan Durgandini ini membuat Dewabrata bersumpah tidak akan menjadi raja Astina dan tidak akan menyentuh wanita manapun supaya tidak ada keturunannya yang akan merebut tahta kerajaan Astinapura itu. Sumpah yang sangat menggetarkan bahkan para dewata pun takut mendengarnya.

Dewabrata memilik 2 orang adik dari ibu tirinya, Citranggada dan Wicitrawirya. Merekalah yang akan menjadi penerus tahta Astinapura. Tapi ketika Citranggada menjadi raja, ia belum memiliki keturunan. Karena kebaikan hati Dewabrata ia mencarikan dua putri sekaligus untuk kedua adiknya. Sampailah ia di kerajaan Giyantipura untuk memboyong 2 putri raja Darmahambara, Ambika dan Ambalika. Karena kebaikan hatinya itu pula membuatnya bertemu dengan wanita cantik kakak kedua putri itu, Amba. Pandangan pertama membuat keduanya jatuh cinta. Amba memaksa diri untuk ikut ke Astina, tapi karena keteguhan hati Dewabrata akan sumpahnya, ia membunuh Amba dengan panahnya.

Berbagai cobaan datang menguji sumpah setianya. Beginilah kisah panjang keturunan Dewabrata, Citranggada dan Wicitrawirya meninggal tanpa memiliki keturunan, Ambika dan Ambalika diperistri Abiyasa. Ambika memiliki anak Destatara, Ambalika memiliki anak Pandu Dewanata. Pandu ditunjuk untuk meneruskan tahta Astina. Pandu menikah dengan Kunthi memiliki 5 anak yang disebut Pandawa, sementara Destatara menikahi Dewi Gendari memiliki 100 anak yang disebut Kurawa. Destatara menggantikan sementara tahta Pandu karena ia sedang berbulan madu dengan istri keduanya. Destatara mati kemudian sulung Kurawa, Duryudana meneruskan tahta, sejak saat itu Astinapura menjadi sangat kacau. Pihak Pandawa menginginkan tahta kerajaan kembali ke keluarga Pandawa. Pecahlah perang Barata (Baratayuda) untuk memperebutkan tahta Astina. Kurawa dibantu Dewabrata, sementara Pandawa dibantu kerabat dekat kerajaan Amarta. Pihak Pandawa cukup ragu dalam berperang karena kakeknya, Dewabrata sangat menyayangi mereka.  Muncullah sosok wanita dalam perang Barata itu yang akan mengalahkan Dewabrata, Sri Kandi. Kemiripannya dengan Amba membuat Dewabrata hilang konsentrasi. Dalam sekali panah, matilah Dewabrata dan pihak Pandawa meneruskan kembali tahta Astina.

Begitu berat cobaan atas sumpah yang telah diucapkan. Dewabrata adalah sosok yang sungguh menjadi panutan seorang pemerintah –atau paling tidak seorang yang menjadi panutan-, setia dengan apa yang diucapkan. Banyak godaan yang menyarankan agar ia melepaskan sumpahnya supaya permasalahan yang dihadapi segera selesai. Tapi Dewabrata berkata lain, ia selalu mencari jalan lain agar sumpahnya  tidak dilanggar, dan selalu saja ada jalan hingga akhirnya hanya kematianlah yang bisa mematahkan sumpah itu.

Sebagai seorang generasi muda yang akan memimpin negeri ini, kesetiaan adalah hal yang sungguh dipegang teguh. Hal nomor satu yang menjadi prinsip hidup. Seorang pemimpin adalah sosok yang menjadi panutan rakyatnya. Menjadi bahan pergunjingan apabila kesetiaan seorang pemimpin diragukan. Cobaan yang datang entah dari dalam diri –disebabkan diri sendiri- atau memang datang dari luar hendaknya dijadikan batu loncatan untuk lebih memperkuat kesetiaan seorang pemimpin hingga akhirnya mautlah yang menghancurkannya.

About blueprint

Aku adalah orang yang cenderung menggunakan perasaan dalam menghadapi sesuatu dan masa mudaku aku habiskan di dalam sekolah berasrama. I have so much thoughts in my mind, but I'm not smart in writing and speaking. Maybe those thoughts help me to interact with others. A lot of my friends said that I'm humorous person, but I said I'm bashful. Some call me arrogant, but i call it confident. And I realize, it was my way to cover my real personality.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s