Fenomena yang terjadi diatas merupakan suatu kejadian yang bagi saya sungguh “menggelitik” iman. Sejak SMP hingga saat ini saya selalu menempuh pendidikan dimana agama Katolik selalu menjadi mayoritas sehingga saya tidak pernah mengalami pengujian iman yang amat hebat seperti yang dialami teman-teman saya (Ade, Cindy, Putri) tersebut.

Ternyata apa yang terjadi di luar sana sungguh tak terduga, di luar perkiraan saya. Hal itulah yang membuat hati saya ini miris. Bayangan akan kerukunan yang terjadi di luar ternyata hanya ekspetasi belaka. Namun, saya tidak hanya berhenti pada sikap kaget dan mengeluh.

Proses belajar merupakan satu tahapan di mana seseorang menerima / merekam segala hal di dalam memori otaknya. Sebelumnya, saya tidak menyalahkan agama Islam atas kejadian yang terjadi ini, namun melihat fenomena yang terjadi diatas, pantas lah jika saya menanyakan apa yang sebenarnya menjadi masalah dalam perbedaan agama?

Jika melihat kembali fenomena diatas, perlakuan yang diterima oleh teman saya tersebut menunjukkan betapa minimnya sikap toleransi antar agama itu. Yang seharusnya terjadi adalah bahwa setiap insan di negeri ini bebas dalam mengekspresikan apa yang menjadi agamanya. Setiap pemeluk suatu agama dapat menjalankan ibadahnya dengan baik, lancar dan khidmat. Jika muncul rasa tidak aman, berarti ada yang tidak beres, lalu di manakah letak ketidak-beresan tersebut?

Namun, saya harus memberikan apresiasi kepada teman-teman yang mampu mempertahankan imannya di dalam lingkungan yang mayoritas berbeda. Dari situlah ketangguhan iman itu diuji.

Jika di sekolah saja sudah terjadi masalah intoleransi agama seperti itu, apalagi seperti itu terlihat pula pada para pendidiknya, dapat disimpulkan bahwa sikap intoleransi agama itu sudah mengalir dari generasi ke generasi. Sikap yang ditunjukkan oleh tenaga pendidik (baca:guru) secara tersirat dipahami oleh para murid sebagai aksi nyata untuk memerangi yang berlainan agama dan hal tersebut tentu saja ditangkap oleh para murid sebagai tindakan yang baik.

Sikap-sikap sepele seperti itulah yang akhirnya terekam dan terus terbawa di dalam hidup seseorang. Turun-temurun dari generasi ke generasi. Sehingga menyebakan suasana rukun antar agama terjalin secara kurang harmonis. Otak mereka telah ter-mind-set bahwa perbedaan menjadi hambatan dan sekaligus musuh untuk dapat menjalin suatu hubungan yang harmonis. Saya tidak hanya berbicara mengenai agama Islam, hal ini berlaku untuk semua pemeluk agama.

Padahal jika kita sedikit lebih teliti dalam membaca kata “harmonis”, kita akan menyadari apa sesungguhnya arti harmonis. Secara awam, harmonis merupakan kata sifat yang berasal dari kata harmoni. Harmoni itu sendiri merupakan perpaduan antar unsur-unsur yang berbeda sehingga terbentuk sesuatu perpaduan yang indah. Seperti layaknya suatu orchestra yang memainkan musik secara harmoni. Setiap alat musik menjadi diri mereka sendiri dan dari situlah keharmonisan itu muncul. Tidak alat musik yang saling menyalahkan satu sama lain. Setiap alat musik tahu peran masing-masing, dan tidak ada alat musik yang memaksa alat musik yang lain untuk menjadi alat musik yang sama.

Jika agama-agama (baca: pemeluk-pemeluk agama) dapat belajar melalui analogi orchestra diatas, niscaya keharmonisan antar agama dapat terjalin. Sikap toleransi akan menjadi suatu yang sakral dalam menjalani hidup sehari-hari.

Sebenarnya agama hanyalah sarana saja.Yang lebih penting adalah iman. Karena setiap agama memiliki tujuan yang sama yakni ingin kembali berpulang kepada Allah di surga. Mempermasalahkan agama sama halnya dengan mempermasalahkan  kulit luarnya saja karena sebenarnya isinya sama. Jadi, pertikaian yang mengatas-namankan agama merupakan suatu kesia-siaan belaka. Jika kulit tersebut ditanggalkan, maka tampaklah isi dari buah tersebut di mana semuanya sebernarnya sama saja.

Lantas apa yang menyebabkan sikap intolenransi itu muncul? Sikap itu muncul dalam pribadi yang tertutup dan egois. Mereka cenderung tidak mau menerima perbedaan dan menganggap perbedaan itu tidaklah benar. Sikap tertutup dan egois tersebut terlihat pada ketidakmauan baik secara sengaja maupun tidak sengaja, untuk tidak mau tahu (agama) yang lain. Ketika kita tidak tahu, anggap saja bahwa memakan daging sapi merupakan sesuatu yang diharamkan bagi agama Hindu, karena hewan sapi dianggap suci, maka akan menjadi masalah bagi kita jika kita memaksa orang beragama Hindu untuk memakan daging sapi.

Selain itu juga, jika kita tidak mengetahui apa makna dibalik patung-patung di dalam gereja, atau kiblat sholat mengarah menuju barat, akan muncul anggapan bahwa hal-hal tersebut merupakan suatu bentuk penyembahan berhala. Padahal pemikiran yang muncul tanpa dasar yang jelas merupakan suatu kesalahan. Maka dari itu penting bagi kita untuk selain mendalami keyakinan masing-masing, juga turut mengerti ajaran agama lain. Tidak kemudian harus berpindah keyakinan atau menganggap hal tersebut sebagai ajaran sesat.

Dengan mempelajari atau mengerti ajaran-ajaran agama yang lain, kita dapat mengambil sikap yang tepat dalam menanggapi pola hidup agama yang lain. Sehingga tidak ada lagi sikap intoleransi yang disebabkan oleh persepsi yang salah. Karena persepsi membutuhkan klarifikasi, untuk membuktikan apakah paradigma yang muncul merupakan suatu kebenaran, kemudian dari  situ dapat diambil langkah yang tepat untuk menanggapi suatu fenomena yang muncul. Reaksi yang muncul tanpa latar belakang yang jelas merupakan suatu kesalahan.

About blueprint

Aku adalah orang yang cenderung menggunakan perasaan dalam menghadapi sesuatu dan masa mudaku aku habiskan di dalam sekolah berasrama. I have so much thoughts in my mind, but I'm not smart in writing and speaking. Maybe those thoughts help me to interact with others. A lot of my friends said that I'm humorous person, but I said I'm bashful. Some call me arrogant, but i call it confident. And I realize, it was my way to cover my real personality.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s