Judul Buku                  : Semar Mencari Raga

Nama Pengarang         : Sindhunata

Jumlah Halaman          : viii + 60 halaman

Penerbit                       : Kanisius

Tahun Terbit                : 1997

Sampul Buku

Sampul Buku

Berawal dari pertarungan dua Semar kembar, Dursasana, Durmagati, Citraksi, Citraksa, Burisrawa, Patih Sengkuni, Kartamarma, Duprakempa dan semua para Kurawa berusaha untuk mencari siapa Semar yang asli dari dua Semar yang sedang bertarung itu. Kemudian datang Semar yang ke tiga yang merasa dirinya paling asli. Semua Semar memiliki kemampuan yang sama. Para Kurawa semakin bingung dengan kehadiran Semar ke tiga ini.

Mereka terus bergumul hingga akhirnya menjadi sebutir telur. Sang Hyang Ismajayati, sang Semar asli tidak berada dalam raganya, ia tidak mengenal dirinya lagi. Ternyata telur itu adalah semar-semar yang samar. Melihat itu Sang Hyang Tunggal mengutus Sang Hyang Ismajayati turun ke bumi untuk mencari raganya.

Ketika ia turun ke bumi, ia mendapati sebuah dataran. Ia berguling disana dan terasa jiwanya diselimuti sesuatu. Ia merasa ditarik tapi ia terus berguling hingga akhirnya menyatu dengan tanah. Ia telah menemukan raganya. Tak sadar ternyata pergumulannya tadi menumbuhkan berbagai tanaman sayur dan buah. Sungguh subur sekali. Penduduk di sana sangat gembira sekali melihat keadaan ini. Mereka memuji-muji dan memuja-muja Semar yang telah menyuburkan tanah itu, akhirnya mereka menamai daerah makmur itu Klampis Ireng.

Kabar kemakmuran tanah itu terdengar oleh pemerintah. Pemerintah iri dengan kemakmuran daerah itu, maka dibuatlah pajak yang menguntungkan pemerintah. Lama-kelamaan pajak itu semakin banyak dan tidak masuk akal. Desa Klampis Ireng akhirnya tidak semakmur dulu, rakyatnya hidup sengsara dan orang kaya tertawa bahagia diatas penderitaan mereka. Warga desa Klampir Ireng menginginkan kembali kehadiran Semar, tapi yang ada hanyalah sosok Semar yang samar-samar.

Warga sudah tidak tahan dengan keadaan seperti ini, mereka menanyakan di mana Semar berada. Ternyata selama ini ia berada di dalam hati rakyatnya. Semar takut dimanfaatkan oleh para pemerintah sehingga ia bersembunyi di dalam hati rakyat dan ikut menderita bersama mereka. Semar marah dan melampiaskan amarahnya. Tapi sang Dewa menasehatinya, karena Semar itu adalah tanah maka ia harus menderita. Dan dalam penderitaaan itu Semar merasakan kebebasan.

Semar sedang mencari jati dirinya, ia tidak tahu sekarang menjadi apa atau siapa dirinya. Ia kesulitan dalam mencari raganya, bahkan harus menderita dan menderitakan orang lain pula. Mencari jati diri memang tidak mudah. Sampai tua pun kita akan terus mencari jati diri. Sama halnya denganku, mencari jati diri butuh perjuangan, sebenarnya siapakah aku? Terkadang pada masa-masa ini pencarian jati diri kita  banyak dipengaruhi oleh pergaulan dan lingkungan sekitar, sehingga jati diri kita menunjukkan seperti apa lingkungan kita, bukan kita yang sesungguhnya.

Sebagai generasi muda yang kelak memimpin bangsa ini, mencari jati diri itu sangat penting. Ditengah golombang masyarakat seorang pemimpin harus memiliki jati diri yang kuat untuk menghadapi berbagai cobaan. Masa sekarang ini adalah masa bagiku untuk mencari tahu jati diri seorang pemimpin. Mungkin kita bisa santai-santai dan membayangkan bahwa kehidupan seorang pemimpin itu mudah dan menyenangkan.  Apa yang kelihatan tak seperti yang sebenarnya.

Buku ini menarik perhatian saya karena dalam kisah Putri Cina diceritakan seorang Semar yang mengacaukan babad tanah Jawa, sehingga saya tertarik untuk membaca Kisah Semar secara khusus. Namun, apa yang diceritakan di dalam novel Putri Cina berbeda dengan buku ini. Sangat khas  gaya Sindhunata  dalam membawakan cerita, memadukan realita dan konsep pemikiran menjadi kalimat yang multitafsir. Kisahnya sangat sederhana namun sangat mendalam. Perpaduan antara kisah dan gores-gores lukisan cerita menjadi karya yang molek.

About blueprint

Aku adalah orang yang cenderung menggunakan perasaan dalam menghadapi sesuatu dan masa mudaku aku habiskan di dalam sekolah berasrama. I have so much thoughts in my mind, but I'm not smart in writing and speaking. Maybe those thoughts help me to interact with others. A lot of my friends said that I'm humorous person, but I said I'm bashful. Some call me arrogant, but i call it confident. And I realize, it was my way to cover my real personality.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s