Setelah sebelumnya kita membaca cerita Ade(19), kini kisah Cindy(18). Ia adalah mahasiswi jurusan Farmasi di salah satu Universitas swasta di Jogjakarta, Cindy mengalami intoleransi beragama ketika duduk di bangku SMA. Di sekolahnya hanya ada 10 siswa yang beragama Kristiani. Dan diangkatannya setiap kelas hanya ada 2 orang yang beragama Katolik.

Pengalaman yang ia alami terjadi ketika berada di kelas XI(sembilan). Teman-temanya ada yang menanyakan berhubungan dengan agama Katolik tetapi cenderung menjatuhkan agama Katolik itu sendiri. Di dalam alkitab dikatakan bahwa Tuhan Yesus adalah Anak Domba Allah. Teman-temanya menanyakan kenapa Tuhan disamakan dengan domba, tetapi Cindy hanya menjawab seadanya dan sepengetahuannya. Alhasil teman-temannya mengejeknya. Untung saja saat itu ada salah satu temannya yang beragama muslim yang meredakan situasi itu dengan menyatakan bahwa kepercayaan setiap orang itu berbeda-beda.

Pernah juga suatu kali, ada seseorang (di luar konteks SMA) yang telah mengalami semua agama. Agama terakhir yang orang tersebut percayai adalah Kristen Protestan. Ia memandang bahwa semua agama itu tidak ada yang benar dan sebagainya. Kemudian ia menerbitkan sebuah buku yang menceritakan pengalamannya itu. Buku tersebut menjadi topik pembicaraan yang sangat panas saat itu. Hingga akhirnya suatu kelompok agama tertentu menyatakan tidak setuju dengan isi tulisan buku tersebut yang kemudian malah berakibat pada pembakaran gereja-gereja Katolik di Temanggung.

Cindy merasakan kepedihan yang amat sungguh. Umat Katolik saat itu merasakan bahwa inilah saatnya kaum minoritas untuk angkat bicara, bahwa apa yang dilakukan ormas tersebut tidaklah benar, membakar gereja justru menjadi sebuah tindakan yang salah berkaitan dengan peluncuran buku yang membahas agama tersebut. Namun, karena umat Katolik sudah kalah secara kuantitas, akhirnya niat tersebut hanyalah menjadi niat saja tanpa realisasi.

Melihat situasi yang demikian ini, ia merasa sungguh sakit. Namun apa daya, ia tidak dapat mengatur dan mengendalikan apa yang sedang terjadi. Cindy menjalani aktivitasnya di SMA dengan tetap bersikap rendah hati. Ia tidak menggembar-gemborkan masalah perbedaan agama. Ia justru memperkenalkan agama Katolik secara baik-baik. Cindy tergabung dalam sebuah organisasi Ikatan Pelajar Katolik. Ia menceritakan kepada teman-temannya apa yang ia alami di dalam komunitas itu sendiri, selain itu ia juga aktif mengikuti kegiatan JARKOM (Jaringan Komunikasi) sebuah acara di mana seluruh Organisasi Pelajar Katolik se-Keuskupan Agung Semarang berkumpul. Melalui acara-acara yang ia alami tersebut ia memperkenalkan agama Katolik, teman-temannya pun merasa tertarik mendengar cerita Cindy.

Dalam benaknya, Cindy ingin agar tidak ada lagi orang yang fanatik dan membenarkan agama yang dipeluknya. Tiap orang memiliki kepercayaan masing-masing, dan biarlah kepercayaan itu dipegang setiap orang. Saya menganggap bahwa ini benar, orang lain juga menganggap itu benar, tetapi

jangan sekali-kali mempermasalahkan kebenaran apa yang dijunjung karena hal tersebut hanya akan memecah-belah suatu kelompok saja.

About blueprint

Aku adalah orang yang cenderung menggunakan perasaan dalam menghadapi sesuatu dan masa mudaku aku habiskan di dalam sekolah berasrama. I have so much thoughts in my mind, but I'm not smart in writing and speaking. Maybe those thoughts help me to interact with others. A lot of my friends said that I'm humorous person, but I said I'm bashful. Some call me arrogant, but i call it confident. And I realize, it was my way to cover my real personality.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s