Masa menempuh pendidikan adalah masa yang rawan bagi seseorang untuk menerima sebuah informasi. Jika informasi yang diberikan salah atau tidak tepat, maka kelak dikemudian hari, kesalahan yang sama pun akan kembali terulang. Begitu pula mengenai agama, jika sejak kecil seseorang diberi masukan mengenai pemahaman agama dan keberagaman agama yang salah, maka perspektif yang digunakan adalah perspektif yang salah.

Berangkat dari titik perkembangan seseorang manusia tersebut, saya menemukan beberapa hal yang tampaknya pantas untuk menjadi bahan perbincangan, berkaitan dengan pluralisme agama. Saya telah mewawancarai beberapa narasumber di mana dalam proses menempuh pendidikannya merasakan minimnya sikap respek dan toleransi antar umat beragama.

Yang pertama bernama Ade(19), pengalaman yang ia alami terjadi ketika masih duduk di bangku tingkat SMP. Di sekolahnya yang beragama Kristiani hanya 15 orang saja. Situasi minim toleransi beragama terlihat ketika proses pemilihan pengurus OSIS. Orang-orang yang dipilih untuk menjadi pengurus OSIS cenderung beragama Islam. Selain itu acara-acara yang mendukung perkembangan spiritualitas agama tidak diadakan di sekolah tersebut. Untungnya ia memiliki kesempatan lain untuk tergabung dalam komunitas ikatan pelajar Katolik dan komunitas gereja, sehingga meskipun di sekolah tidak ada acara khusus, tetapi ia dapat mengalaminya di lingkungan yang lain.

Dalam mengikuti pelajaran agama, Ade dan teman-temannya yang beragama Katolik satu sekolah dikumpulkan menjadi satu di perpustakaan untuk mengikuti pelajaran agama bersama-sama. Untung saja, ia dan teman-temannya masih memiliki kesempatan untuk dapat mengikuti pelajaran agama dengan nyaman.

Selama bersekolah di SMP tersebut, mahasiswa jurusan pendidikan Biologi Universitas Gajah Mada ini tidak merasa terlalu minoritas, hanya pada awalnya saja ia membutuhkan adaptasi untuk tinggal di lingkungan yang kebanyakan memeluk agama Islam. Ade bergaul layaknya kebanyakan remaja yang lain, ia tidak terlalu mempermasalahkan perbedaan agama sehingga ia dapat bergaul baik dengan teman-teman lainya. Ia merasa sudah cukup dengan keadaan yang dialaminya tersebut, akan tetapi jika dapat lebih baik mengapa tidak. Toleransi agama masih sedikit kurang dihargai terutama ketika merayakan hari raya keagamaan. Libur untuk hari raya Natal dan Paskah tidak mendapat hari libur tambahan dan jika hari raya tersebut jatuh pada hari Minggu pun tidak diberi jatah libur tambahan. Maka dari itu Ade berharap sangat agar kesempatan untuk merayakan hari raya keagamaan dapat ditingkatkan.

About blueprint

Aku adalah orang yang cenderung menggunakan perasaan dalam menghadapi sesuatu dan masa mudaku aku habiskan di dalam sekolah berasrama. I have so much thoughts in my mind, but I'm not smart in writing and speaking. Maybe those thoughts help me to interact with others. A lot of my friends said that I'm humorous person, but I said I'm bashful. Some call me arrogant, but i call it confident. And I realize, it was my way to cover my real personality.

Comments are closed.