Lulus SMA, sekarang saatnya melanjutkan ke pendidikan jenjang selanjutnya. Aku adalah remaja lulusan sekolah berasrama yang katanya ternama di Jawa, yaitu SMA Van Lith. Dan bener-bener nggak disangka aku melanjutkan sekolah di SMA Seminari Menengah Mertoyudan. Buset! Itu adalah sekolah calon Imam. Bareng-bareng sama temen Van Lith, Bagus & Aria yang kerap disapa Lambe, Dobleh, atau semacamnya. Tau kan kira-kira kenapa dia dipanggil kayak gitu. Tapi khusus aku sama temen-temen Van Lith yang lain, kami manggil si Aria itu Welas. Entah kenapa bisa jadi kayak gini. Yang jelas itu bukan karena dia pake kaos Balotelli yang ada tulisannya “Why Always Me?”.

Kembali lagi, kami bertiga melanjutkan ke sekolah calon Imam itu. Dan setahun telah berlalu, kami membentuk percabangan sempurna(emangnya bioteknologi?). Serius ini. Bagus memutuskan untuk menjadi seorang religius, yakni Jesuit. Welas menjadi seorang Imam Diosesan. Sementara aku yang awalnya juga sama, menjadi seorang Jesuit ternyata meneruskan menjadi seorang awam. Percabangan sempurna bukan?

Satu tahun menjadi seorang seminaris KPA sudah pasti akan diterima di konggregasi atau keuskupan yang dilamarnya, bahasa gaulnya lolos solisitasi. Bagi kaum awam yang belum tahu, solisitasi ini semacam melamar pekerjaan di sebuah lembaga tertentu. Siapa bilang KPA pasti lolos? Nyatanya aku tidak diterima di Serikat Jesus. Dan inilah kenyataan yang harusnya aku hadapi. Non mea sed tua voluntas. Bukan kehendakku melainkan kehendak-Mu.

Well, banyak yang bilang kalo aku sia-sia sekolah di seminari ini. Tapi, apakah masuk seminari ini harus menjadi seorang Imam? Ya. Dalam buku pedoman pembinaan Seminari, semua yang sekolah di Seminari ini pasti dan harus menjadi imam, bagi yang sudah tidak berminat, silahkan kepaki barang-barang dan angkat kaki dari sekolah ini.

Aku harus menerima situasi yang berbeda dari kebanyakan hal yang dibicarakan orang lain. Aku seminaris KPA yang tidak lolos solisitasi, aku tidak diterima di Ordo Serikat Jesus. Mencoba ordo lain? Butuh waktu yang tidak sebentar untuk mengenal spiritualitas dan seluk-beluk ordo tertentu. Apalagi dalam hitungan minggu aku harus “pindah” ordo, tentu itu bukan sesuatu yang mudah, semudah mengeluarkan kentut.

Otomatis aku harus melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Sekilas tampaknya waktu satu tahunku di Seminari Mertoyudan sia-sia, dan banyak yang mengatakan demikian. Aku tolak mentah-mentah orang-orang yang mengatakan seperti itu. Meskipun secara fisik aku tidak lagi menjadi calon Imam, aku mendapat sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak didapatkan teman-teman sebayaku yang lain.

Aku tidak merasa sedih atau kecewa atas keputusan yang aku terima. Ya tentu aku merasa sedih, dan berkabung atas “penolakan” yang aku terima, tapi aku tidak terus berlarut-larut tenggelam dalam kesedihan dan kegalauan. Aku melihat mundur kebelakang sebentar untuk dapat melakukan loncatan yang cukup jauh. Pengalamanku ditolak menjadikanku dapat bercermin. Aku ditolak tentu karena aku belum memenuhi persyaratan untuk diterima di Serikat Jesus, dengan demikian aku mengerti kelemahanku dan aku tahu apa yang seharusnya aku lakukan.

Perjalanan hidup tak selalu mulus dan terus menanjak, sepanjang perjalanan hidupku aku tidak pernah mengalami kesulitan dalam meneruskan pendidikan. Mulai dari TK sampai masuk Seminari aku tidak mengalami kesulitan maupun kejatuhan. Dan baru kali ini aku mengalami penolakan dalam proses melanjutkan pendidikan. Aku masih belum diizinkan Tuhan untuk masuk Tahun Orientasi Rohani atau Novisiat. Aku masih harus kembali ke dunia untuk mencari Tuhan di dunia dahulu.

Aku justru memaknai penolokan ini sebagai penerimaan. Kata Rm. Rektor Ign. Sumarya, semakin orang tinggal di dunia, imannya harus semakin kuat. Dan ini berarti, aku yang tidak lolos solisitasi memiliki iman yang kuat, atau bisa jadi untuk menguji seberapa kuat imanku. Dengan kata lain aku diterima di “dunia”. Meskipun tidak lagi menjadi calon Imam, hal ini tidak perlu disesali. Pepatah mengatakan “Ada seribu jalan menuju Roma”, tentu meskipun kini aku duduk di bangku kuliah, masih ada seribu jalan yang dapat aku lalui untuk menjadi imam.

Hal yang demikian tidak perlu disesali, aku tahu Tuhan sudah punya rencana bagiku.

About blueprint

Aku adalah orang yang cenderung menggunakan perasaan dalam menghadapi sesuatu dan masa mudaku aku habiskan di dalam sekolah berasrama. I have so much thoughts in my mind, but I'm not smart in writing and speaking. Maybe those thoughts help me to interact with others. A lot of my friends said that I'm humorous person, but I said I'm bashful. Some call me arrogant, but i call it confident. And I realize, it was my way to cover my real personality.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s