Perjalanan bersekolah di Seminari sudah mulai pada tanggal 16 Juli 2011 kemarin. Momen keberangkatanku untuk bersekolah di sini tentu menjadi sangat penting karena aku akan berpisah dengan teman-temanku, paling tidak untuk 40 hari kedepan, dan selebihnya bakal sulit untuk menjalin komunikasi dengan mereka secara bebas. Aku berangkat ke Seminari diantar oleh keluarga: Bapak, Ibu, mbak Rita, mas Yoga; kebetulan juga saudara sepupuku, Marsel, masuk KPP jadi keluarganya juga sekalian mengantar keberangkatanku, masih ditambah pula keluarga dekat juga dating sekeluarga. Tak hanya itu, teman-temanku dari van Lith juga ikut mengantar, termasuk mantanku. Kalau dihitung-hitung yang ngantar kepergianku kurang lebih 11 orang dari keluarga dan 19 orang  teman-teman van Lith. Sebenarnya mereka semuanya sangat istimewa bagiku karena mereka berperan penting selama proses hidupku hingga saat ini. Bahkan, teman-teman itu sudah jauh-jauh hari mempersiapkan diri hingga ada yang rela menghabiskan uangnya untuk naik bis demi mengantarku. Tapi ada satu yang memiliki status khusus yaitu mantanku, Mela. Sejak awal memang ia melarangku masuk seminari, tetapi setelah ia bisa menerima keadaan ini ia ingin membuktikan bahwa ia kuat, ia ingin mengantar kepergianku. Ia juga berpesan supaya aku tidak lelah untuk berdoa dan berkarya serta menggapai cita-citaku seperti rama Mangun. Teman-teman lain juga ada yang berpesan supaya aku besok membaptis anak-anak mereka, memberkati perkawinan mereka, memberkati rumah mereka dan lain sebagainya.

Meninggalkan mereka sudah jelas berat bagiku. Ini terlalu cepat bagiku. Aku masih belum bisa percaya bahwa aku meninggalkan mereka, seakan-akan baru kemarin aku berkenalan dengan mereka. Tapi, rasa kangen itu tidak terlalu kuat, yang aku rasakan justru kebingungan. Aku sudah dari dulu mengenal seminari ini, tapi kali ini berbeda. Aku merasa asing disini, tidak seperti biasanya. Aku tidak tahu harus berbuat apa, dan lagi tidak ada yang memberi tahu apa yang harus kulakukan, terutama kelas XII. Tetapi dari situ aku harus bertanya dan mengakrabkan diri dengan mereka. Rasa bingung itu kemudian aku acuhkan saja. Aku buang jauh-jauh pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan dan aku jalani setiap kegiatan dengan gembira. Akhirnya, aku menikmati masa MOS itu dengan senang. Yang ada di pikiranku adalah bahwa MOS itu menyenangkan dari pada belajar di kelas. Pokoknya dibawa happy aja. Dan sekarang, seminggu tak terasa aku sekolah di sini. Aku mulai bisa membiasakan diri hidup disini. Mau tak mau itu harus, karena dengan merekalah aku akan hidup dengan mereka kurang lebih 1 tahun disini, mereka akan menjadi keluarga ketigaku disini. Tetapi, aku merasa senang sekarang karena saat ini aku bisa tinggal nyaman dan tak ada konflik yang membebani pikiranku.

Saat ini, aku merasa galau. Entah kenapa aku masih merasa tidak cocok dengan situasi ini. Apa mungkin ini masih proses penyesuaian atau apa, tapi ada yang bergejolak didalam perasaanku ini yang membuatku kurang nyaman dengan situasi ini. Seolah-olah aku berjalan dijalan yang redup dan tak rata. Yang aku butuhkan adalah penerang dan perata untuk jalanku.

Bergaul dengan teman-teman KPA adalah yang terbaik. Bisa dikatakan kami beruntung dengan angka enam ini. Jumlah kami yang kecil tidak menyurutkan semangat kami untuk menempuh pendidikan disini, tetapi justru karena kecil inilah kami jadi kompak dalam 1 minggu saja kami sudah bisa mengakrabkan diri satu sama lain, meskipun itu baru “kulitnya” saja. Tetapi KPA hanya sebagian kecil dari komunitas Seminari.

Pergaulan dengan kelas XII bisa dikatakan baik. Aku bersyukur karena mereka mau menerima 6 anggota baru ini menjadi bagian dari Kavaleri. Aku sudah bisa akrab dengan beberapa anak kelas XII, bagiku itu adalah suatu kebaikan bisa akrab dan berbagi cerita dengan mereka. Ada sesuatu yang baru disini, yaitu bawil. Sebelumnya aku tak tau apa itu bawil, ternyata bawil adalah singkatan dari basis wilayah. Dan, aku kurang mengerti apa itu basis wilayah. Yang aku tahu bahwa bawil itu berisi beberapa orang (±7 orang) yang memiliki orientasi panggilan yang sama. Aku menjadi bagian dari bawil SJ, yang kemudian berubah nama menjadi bawil Pedro Arrupe yang terdiri dari Edo, Bagas, Dion, Limpar, Dodo, dan 2 anggota baru yang berbeda orientasi yaitu Gio dan Rheno. Hubunganku dengan mereka bisa dibilang biasa saja. Aku tidak begitu akrab dengan mereka. Sampai saat ini aku hanya dekat dengan Bagas, itu pun hanya sekedar bercerita tentang panggilan, tidak lebih dalam.

Waktu seminggu untuk orientasi bisa dibilang cukup, juga bisa dibilang kurang. Cukup untuk berorientasi dengan rutinitas dan teman-teman KPA, tapi kurang untuk berorientasi dengan seluruh komunitas Seminari. Pergaulanku dengan medan lain, rama, bruder, suster dan frater jelas sangat kurang. Bergaul dengan kelas XII seluruhnya saja masih belum, apalagi dengan mereka semua. Selama seminggu kemarin juga sibuk MOS, sehingga tidak bertemu dengan banyak rama, bruder, suster dan frater. Paling hanya berpapasan saja dan tentu saja aku menyapa mereka. Tetapi kalau dibandingkan antara MP, MT dan MM aku lebih dekat dengan anak-anak MP dan MM. Nggak tau kenapa, mereka enak diajak buat cerita-cerita. Sewaktu mos kemarin, semua acara pasti bareng MP dan aku selalu duduk dekat dengan adik sepupuku, Marsel. Ia selalu bercerita bahwa ia home sick. Tapi di lain pihak, aku juga turut merasa seperti itu. aku sebagi kakak yang lebih tua sudah seharusnya menguatkan dan memberi semangat agar dia bisa betah di sini. Kami berdua sebagai anak terakhir, selama di rumah pasti bisa dibilang sangat dimanja oleh orang tua. Tapi, dalam batinku aku merasa hebat, karena berani meninggalkan keluarga yang selama ini selalu memperhatikan anak terakhir. Begitu juga dengan Marsel dia pun seharusnya bangga bisa hidup tanpa keluarga untuk sementara ini. Yang aku butuhkan saat ini adalah penguatan dan yang pasti penerang bagi jalanku supaya aku bisa tahan dalam menjalani proses formation di Seminari hingga akhirnya menjadi seorang Imam.

Aku yakin bahwa Engkaulah penerang bagi jalanku.

About blueprint

Aku adalah orang yang cenderung menggunakan perasaan dalam menghadapi sesuatu dan masa mudaku aku habiskan di dalam sekolah berasrama. I have so much thoughts in my mind, but I'm not smart in writing and speaking. Maybe those thoughts help me to interact with others. A lot of my friends said that I'm humorous person, but I said I'm bashful. Some call me arrogant, but i call it confident. And I realize, it was my way to cover my real personality.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s