Sebuah refleksi 7 hari live-in. bukan sebuah paksaan ataupun kehendak sendiri. Inilah perutusan.

Selama live-in di KPTT, aku merasa nyaman-nyaman saja, tidak merasa takut atau bagaimana. Mungkin cenderung senang. Perutusan ke KPTT bukan sesuatu yang berat bagiku, mungkin karena aku belum merasakan secara langsung pekerjaannya, tapi yang jelas aku tidak kecewa mendapat tempat ini. Aku tidak menganggap live-in ini terlalu serius, santai saja. Menikmati setiap momennya tanpa ada suatu tuntutan.

            Kebetulan sekali ketika aku dating ke KPTT bertepatan dengan waktu kursus pertanian usai, dan akan memulai kursus lagi sesaat setelah aku pulang dari live-in. jadinya aku di sana hanya membantu-bantu, tidak mengalami pekerjaan dan rutinitas yang berat.

            Aku cenderung merasa senang karena aku merasa seperti tinggal di pasturan. Apa saja boleh aku lakukan, kalau mau buat minum ya silahkan, baca koran ya monggo. Situasi yang cukup nyaman untuk aku tinggali. Hanya saja saat jam kerja ya harus kerja. Nah, pekerjaan inilah yang cukup berat. Hari pertama dan kedua aku masih belum bekerja, masih orientasi suasana, bahkan acaranya hanya santai-santai hingga aku diajak untuk mengikuti Hari Pangan Sedunia di Girisonta. Begitu hari ketiga mulailah aku bekerja di peternakan. Pekerjaan yang cukup berat, tapi aku melakukannya dengan total. Aku akui pekerjaan ini meskipun mudah tapi cukup berat, tapi aku berusaha, aku tidak mengeluh. Mungkin karena selama ini tidak pernah bekerja seberat itu, hari-hari selanjutnya aku mulai lemas. Untungnya pekerjaan pertama di ternak, karena pekerjaan selanjutnya di kebun tidak seberat itu sehingga tenagaku cukup.

            Pekerjaan di ladang cukup menantang pasalnya aku harus memupuki tanaman di ladang dengan fermentasi kotoran sapi yang telah dicairkan. Selain bau anyirnya yang menusuk hidung, kotoran yang tumpah juga mengotori bajuku ditambah lagi aku mengenakan sepatu bot yang membuat kakiku lecet. Cairan pupuk sapi yang tumpah masuk ke dalam sepatu bot dan entah mengenai luka terbuka di kakiku atau tidak, yang jelas cukup banyak air yang masuk sehingga menimbulkan bunyi decit tanda air yang cukup banyak. Dalam hati aku berpikir bagaimana kalau aku terkena tetanus atau infeksi, tapi aku biarkan saja hingga pekerjaan selesai. Sebuah tindakan yang sangat berani aku lakukan, mungkin aku takut dibilang manja atau sok jijik dan sebagainya. Untunglah sampai refleksi ini ditulis aku baik-baik saja.

            Selain mengalami kengerian kerja di ternak bersama kotoran itu, aku juga masih merasa takut, terutama takut untuk membuka mulut dan mengajak bicara. Entah takut atau aku malu, atau memang aku orang yang demikian. Ada banyak orang di sana, tapi aku jarang mengajak bicara, aku lebih banyak diam dan bekerja. Aku tak tahu kenapa tapi ini sering terjadi ketika aku bertemu dengan orang baru/suasana baru. Aku lebih banyak diam, membiasakan diri dengan suasana. Baru ketika aku sudah nyaman dengan hal baru aku mulai berani aktif. Dalam hati, jika aku mengakrabkan diri takutnya dibilang sokatau takut menyinggung perasaan karena aku belum mengenal. Paling tidak dalam waktu seminggu itu aku sudah bisa sedikit membuka diri.

            Sebuah prestasi baru bagiku, aku bisa membuat jarak tanam dengan sistem segitiga sama sisi; mengenal tanaman (±60) baru dan manfaatnya. Sebelumnya aku tidak tahu kalau menanam itu butuh keakuratan dalam pengukuran dan prediksi populasi sehingga hasil yang didapat maksimal; dan jarak tanam tiap tanaman itu berbeda-beda.

            Sepertinya aku lebih menaruh concern pada caraku membangun relasi dengan orang baru. Melihat diriku selama di KPTT dan mungkin di beberapa tempat baru lainnya yang pernah aku hidupi, selalu saja aku lebih banyak diam menunggu sesuatu terjadi padaku. Aku tidak banyak aktif. Bahkan tidak hanya di tempat yang baru, di tempat yang sudah cukup lama pun aku tidak begitu banyak bicara. Mungkin inilah aku.

Jika melihat jauh kebelakang, aku adalah orang yang –bisa dibilang– minoritas. Di keluarga aku adalah anak terakhir, tidak banyak angkat bicara dalam keluarga. Bahkan ciri khas anak ragil adalah selalu diperhatikan di dalam keluarga. Bisa dibilang, aku lebih banyak menunggu sesuatu terjadi padaku (diperhatikan) ketimbang aku melakukan sesuatu. Saat aku Sekolah Dasar pun aku termasuk golongan minoritas, menjadi satu-satunya siswa yang beragama Katolik di kelas. Jelas sekali aku dibentuk dari lingkungan yang membuatku bukan orang yang berani membuka mulut. Tapi jika (waktu) sedikit agak maju, aku bukan lagi siswa minoritas selama SMP dan SMA. Mungkin karena bawaan dari lahir, perilakuku yang agak feminim ini membuatku selalu menjaga diri. Menjaga diri agar tidak terlalu menjadi pusat perhatian dan bahan pembicaraan banyak orang. Tapi nyatanya aku tetap menjadi bahan pembicaraan (sampai olok-olok) meskipun aku sudah menjaga diri.

Sepertinya aku harus mulai merubah diri. Kalau selama ini aku berperilaku seperti itu hasilnya zero, aku harus mulai merubahnya. Aku harus berani untuk terbuka dan bangga dengan apa yang aku miliki ini. Tak perlu lagi super jaim (jaga image), toh hasilnya sama saja kan. Ngomong-ngomong soal merubah diri ini, aku bertanya dalam hati: apakah perubahan ini juga menyangkut jati diri? Aku tak tahu, apakah perilakuku yang demikian ini memang jati diriku? Lalu, haruskah aku mengubah diriku? Tapi, perubahan yang aku lakukan ini tentu saja harus tetap menjaga otentisitas diriku. Aku harus selalu bersyukur dengan apa yang aku miliki ini. Meskipun seberapa buruknya yang aku terima, ini lah pemberian yang diberikan langsung oleh Tuhan, sekarang tinggal bagaimana aku mengem-bangkannya. Mengembangkannya menuju hero!

Oh iya, ada satu hal lagi. Rm Fris menawarkan satu hal yang menjadi perhatianku, yaitu belajar makna kehidupan melalui tanaman. Akhir-akhir ini aku sering sekali mengalami yang namanya kekeringan rohani. Bahkan aku sulit menemukan Tuhan disetiap refleksi harianku. Aku tak tahu secara persis mengapa aku bisa demikian, mungkin karena aku terlalu berpikir realistis. Tapi, aku seharusnya belajar dari tanaman. Mereka bisa hidup tumbuh subur asalkan selalu dirawat dan disiram secara rutin. Maka dari itu, aku pun juga harus selalu rutin dan teratur untuk menumbuhkan kerohanianku. Mengadakan bimbingan rohani secara pribadi, berdevosi,atau  meditasi. Sehingga tidak kering.

Dalam kekeringan ini aku selalu memohon setetes embun-Mu yang menyegarkan jiwa yang kering ini.

About blueprint

Aku adalah orang yang cenderung menggunakan perasaan dalam menghadapi sesuatu dan masa mudaku aku habiskan di dalam sekolah berasrama. I have so much thoughts in my mind, but I'm not smart in writing and speaking. Maybe those thoughts help me to interact with others. A lot of my friends said that I'm humorous person, but I said I'm bashful. Some call me arrogant, but i call it confident. And I realize, it was my way to cover my real personality.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s