Narasumber terakhir, Putri(17), saat ini sedang duduk dibangku Sekolah Menengah Kejuruan(SMK). Apa yang ia alami sungguh-sungguh menguji keteguhan imannya.Betapa tidak, di sekolahnya hanya ada 20 siswa yang beragama Katolik dari total keselurahan siswa SMK yakni sebanyak ±1350 siswa.

Pada awal mula ia bersekolah di sana, ia merasa kaget karena hanya sedikit yang beragama Kristiani. Ketika menjalani masa orientasi, ia merasa sedikit ada harapan karena ketika melihat daftar nama, ada 2 orang yang memiliki nama baptis di depannya. Tetapi ternyata mereka yang memiliki nama baptis tersebut memeluk agama Islam.

Putri merasa takut jika tidak diterima oleh teman-temannya, dan ada bayangan di dalam pikirannya, bagaimana nanti dalam mengikuti pelajaran agama?Ternyata untuk dapat mengikuti pelajaran agama dengan tenang saja sungguh merupakan perjuangan dan kerja keras. Di SMK tersebut tidak terdapat kelas khusus untuk pelajaran agama. Mereka (yang beragama Katolik) yang hendak mengikuti pelajaran agama harus mencari kelas yang tidak sedang digunakan. Akan tetapi, meskipun ada kelas yang sedang tidak digunakan, pasti ada saja gangguan. Entah kelas akan digunakan untuk rapat, atau kelas akan digunakan untuk pertemuan, atau kelas tidak diperbolehkan untuk pelajaran karena tidak pantas, dan masih banyak seribu satu alasan lainnya.

Putri sungguh merasa sakit hati akan perlakuan yang ia terima dari pihak sekolah, maupun teman-temannya. Putri dan teman-temannya  sebernarnya sudah bosan dengan metode belajar yang itu-itu saja. Sementara siswa-siswi beragama Katolik di luar sana dapat mengikuti berbagai macam kegiatan seperti retret atau rekoleksi, Putri dan teman-temannya sungguh mendapat kesulitan untuk dapat mengadakan acara seperti itu. Ada banyak sekali alasan-alasan yang dibuat untuk menggagalkan acara yang ingin direncanakan. Untuk merayakan Paskah bersama di sekolah hanya dengan menghias telur paskah saja dipersulit, walaupun akhirnya diperbolehkan.

Pada suatu saat ketika Putri mengikuti acara di gereja bersama dengan Paguyuban Siswa-siswi Katolik, ia bertemu dengan Pastur yang akan mengubah semangatnya. Ia menceritakan bagaimana perjuangannya hidup di SMK tersebut. Pastur tersebut memberinya suatu nasihat agar tetap setia dengan Yesus, akan tetapi jangan terlalu mengagung-agungkan kesetiaan tersebut. Selain itu, sebagai seorang Katolik, tunjukkan bahwa seorang Kristiani itu hebat, tidak terpandang sebelah mata, yaitu dengan selalu menaati perintah Allah dan jangan berbuat dosa.

Di sekolahnya, urusan mencotek saat ulangan sudah menjadi hal yang biasa. Pada awalnya Putri terbiasa untuk mencotek bersama dengan teman-temannya. Tetapi setelah mendengan nasihat Pastur tersebut, Putri menjadi sadar bahwa sebenarnya mencontek merupakan perbuatan dosa. Akhirnya Putri mencoba untuk tidak mencontek saat ulangan, dan ternyata dalam satu kelas tersebut teman-temannya semua bekerja sama(baca:mencontek), hanya Putri seorang yang tidak mencotek. Saat hasil ulangan dibagikan, semua teman-temannya mendapatkan nilai yang memuaskan, hanya Putri seorang yang mendapat nilai jelek. Bahkan ia pun diejek-ejek oleh guru dan teman-temannya.

Putri terus berusaha dan berusaha untuk memperjuangkan kejujuran tersebut, walaupun sepele, tapi hal tersebut akan membawa dampak yang besar. Ia pun juga terus berusaha untuk membangun semangat teman-temannya yang beragama Katolik. Putri mencoba membuat proposal kegiatan dan tidak pernah menyerah untuk memperjuangkan hal tersebut.

Waktu terus bergulir, usaha Putri pun semakin menunjukkan hasil, ada beberapa kemajuan yang dialami meskipun hal itu tidak terlalu signifikan. Selain itu pula, berkat kegigihannya untuk terus memperjuangkan kejujuran, nilai-nilai Putri semakin baik, ia pun ditunjuk untuk mewakili sekolahnya dalam suatu lomba tingkat provinsi.

Martabatnya sebagai orang Katolik tidak kembali dipandang rendah, ia dapat lepas dari situasi yang mencengkram dirinya. Berkat usahanya membawa nama baik sekolahnya ke dalam kancah provinsi.

Namun ia masih berharap agar toleransi antar agama terus dipupuk, sehingga semua merasa aman, tidak ada yang merasa terganggu. Ia pun berharap agar di sekolahnya ia dapat memiliki kelas sendiri untuk dapat mengikuti pelajaran agama. Putri juga berharap agar usahanya untuk dapat menghadirkan sosok religius atau rohaniwan dapat menjadi nyata. Sehingga ia dan teman-temannya dapat mengerti dan meneladan cara hidup kaum selibat. Tidak hanya melulu berada di kelas mengikuti kegiatan yang monoton.

Putri merupakan sebuah bukti dimana usaha keras dengan niat yang tulus ternyata membuahkan hasil yang melimpah. Tidak mudah memang, tetapi lihatlah hasilnya. Ia merasa merdeka. Inilah namanya hidup, butuh perjuangan dan butuh tekad yang bulat untuk meraihnya. Sikap yang dilakukan Putri sudah seharusnya menjadi teladan bagi orang-orang zaman sekarang. Usaha yang dilakukan Putri melawan arus dunia yang serba instan ini. Dunia yang penuh dengan tawaran kemudahan justru banyak menjerumuskan orang dalam dosa. Dimana pada akhirnya orang-orang cenderung menghalalkan berbagai cara(instan) untuk mendapatkan sesuatu.

Relakah kita meninggalkan zona aman dan nyaman kita untuk memperjuangkan kebenaran? Apapun itu?!

About blueprint

Aku adalah orang yang cenderung menggunakan perasaan dalam menghadapi sesuatu dan masa mudaku aku habiskan di dalam sekolah berasrama. I have so much thoughts in my mind, but I'm not smart in writing and speaking. Maybe those thoughts help me to interact with others. A lot of my friends said that I'm humorous person, but I said I'm bashful. Some call me arrogant, but i call it confident. And I realize, it was my way to cover my real personality.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s